Darah ini berlokasi di Provinsi Guizhou , masyarakat Desa Gantuan selalu merayakan tradisi tarik kepala ayam hidup-hidup ini setiap tahunnya , Prosesi acara dimulai dari tahap '' steal the chicken at the drum tower '' yaitu para pemuda jne diharuskan mencuri ayam hidup dimenara. Mereka akan saling berjuang memperebutkan ayam yang sudah diletakkan di puncak menara sebelumnya oleh calon pengantin atau pihak keluarga perempuan.
Menurut mitos leluhur suku Kam di Desa Gantuan , tradisi cari jodoh dengan tarik ayam hidup ini bermula dari kisah seorang pengantin wanita yang menolak dinikahkan dengan sepupunya sebab dirinya sudah mencintai laku-laki lain. Tak ingin egois memaksa , akhisnya pihak keluarga memutuskan bahwa pria yang menjadi pacarnya tersebut harus bersaing dengan calon dari keluarganya sendiri , siapapun pemenangnya nanti sang wanita harus bersedia menerima pinangan dengan hati yang tulus.
Perlombaan dimulai dari pihak laki-laki yang menjadi pacarnya dengan laki-laki dari pihak keluarga . Mereka berdua harus menjadi orang pertama yang berhasil menarik kepala ayam atau bebek sampai putus , siapa yang lebih cepat dialah yang menjadi pemenang dan berhak meminang dengan si perempuan. Tradisi aneh agar enteng jodoh ini sempat redup seiring perkembangan zaman , namun di tahun 1990-an tradisi ini kembali dihidupkan sebagai bagian ''sakral'' dari ritual kebudayaan masyarakat asli setempat sekaligus objek pariwisata.
Namun prosesi sudah jauh berbeda karena bukan lagi dua pria yang menarik ayam atau bebek , melainkan beberapa ayam tumbal yang digantung pada tiang bambu dan dipegang oleh wanita-wanita jomblo , jumlah ayam ini disesuaikan dengan jumlah mereka.Kemudian para bujangan akan bersaing sekuat tenaga memperebutkan ayam hingga putus kepalanya . Ritual ini terus berlanjut saling tarik-tarikan antara pria dan wanita sampai jumlah ayam di tiang bambu sudah habis semua . Setelah itu akan masuk konstestan baru menggantikan yang lama ke tengah lapangan.
Ada suka cita luar biasa dari para penonton yang tertawa riuh menyoraki aksi mereka . Padahal di sisi lain , ayam - ayam yang tak berdosa tersebut menahan sakit luar biasa sampai maut menjemput dan penderitaan mereka hanya dijadikan objek kesenangan oleh manusia yang katanya makhluk berakal ciptaan Tuhan paling sempurna di muka bumi . Tradisi tarik kepala ayam hidup ini sempat mendapat kecaman keras dari lembaga-lembaga kemanusiaan serta organisasi pelindung satwa di berbagai dunia agar tradisi kuno mengerikan ini bisa dihentikan karena begitu sadis menyiksa hewan. Namun faktanya memang di Tiongkok tidak ada undang - undang khusus yang melindungi hewan dari kekejaman , penganiayaan serta penyiksaan manusia .











No comments:
Post a Comment